Makalah Sifat Kimia Tanah

BAB I

DASAR TEORI

  1. A.     Definisi Tanah

 

1. Pendekatan Geologi (Akhir Abad XIX)

 

Tanah: adalah lapisan permukaan bumi yang berasal dari bebatuan yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam, sehingga membentuk regolit (lapisan partikel halus).

2. Pendekatan Pedologi (Dokuchaev 1870)

 

Pendekatan Ilmu Tanah sebagai Ilmu Pengetahuan Alam Murni. Kata Pedo =i gumpal tanah.
Tanah: adalah bahan padat (mineral atau organik) yang terletak dipermukaan bumi, yang telah dan sedang serta terus mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor: Bahan Induk, Iklim, Organisme, Topografi, dan Waktu.

 

3. Pendekatan Edaphologis (Jones dari Cornel University Inggris)

 

Kata Edaphos = bahan tanah subur.

Tanah adalah media tumbuh tanaman
Definisi Tanah (Berdasarkan Pengertian yang Menyeluruh)

 

Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh & berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan.

  1. B.     Fungsi Tanah

 

  1. Tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran
  2. Penyedia kebutuhan primer tanaman (air, udara, dan unsur-unsur hara)
  3. Penyedia kebutuhan sekunder tanaman (zat-zat pemacu tumbuh: hormon, vitamin, dan asam-asam organik; antibiotik dan toksin anti hama; enzim yang dapat meningkatkan kesediaan hara)
  4. Sebagai habitat biota tanah, baik yang berdampak positif karena terlibat langsung atau tak langsung dalam penyediaan kebutuhan primer dan sekunder tanaman tersebut, maupun yang berdampak negatif karena merupakan hama & penyakit tanaman.

Dua Pemahaman Penting tentang Tanah:

  1. Tanah sebagai tempat tumbuh dan penyedia kebutuhan tanaman, dan
  2. Tanah juga berfungsi sebagai pelindung tanaman dari serangan hama & penyakit dan dampak negatif pestisida maupun limbah industri yang berbahaya.

 

  1. C.    Profil Tanah

Profil Tanah adalah irisan vertikal tanah dari lapisan paling atas hingga ke batuan induk tanah.

Profil dari tanah yang berkembang lanjut biasanya memiliki horison-horison sbb: O –A –

E – B – C – R.

Solum Tanah terdiri dari: O – A – E – B

Lapisan Tanah Atas meliputi: O – A

Lapisan Tanah Bawah : E – B

Keterangan:
O : Serasah / sisa-sisa tanaman (Oi) dan bahan organik tanah (BOT) hasil dekomposisi serasah (Oa)

A : Horison mineral ber BOT tinggi sehingga berwarna agak gelap

E : Horison mineral yang telah tereluviasi (tercuci) sehingga kadar (BOT, liat silikat, Fe dan Al) rendah tetapi pasir dan debu kuarsa (seskuoksida) dan mineral resisten lainnya tinggi, berwarna terang

B : Horison illuvial atau horison tempat terakumulasinya bahan-bahan yang tercuci dari harison diatasnya (akumulasi bahan eluvial).

C : Lapisan yang bahan penyusunnya masih sama dengan bahan induk (R) atau belum terjadi perubahan

R : Bahan Induk tanah

Kegunaan Profil Tanah

(1)   untuk mengetahui kedalaman lapisan olah (Lapisan Tanah Atas = O – A) dan solum tanah (O – A – E – B)

(2)   Kelengkapan atau differensiasi horison pada profil

(3) Warna Tanah

D.  Komponen Tanah

Komponen penyusun tanah :

(1) Bahan Padatan berupa bahan mineral

(2) Bahan Padatan berupa bahan organic

(3) Air

(4) Udara

Bahan tanah tersebut rata-rata 50% bahan padatan (45% bahan mineral dan 5% bahan organik), 25% air dan 25% udara.

 

  1. TANAH

Kata ”tanah” seperti banyak kata umum lainnya, mempunyai beberapa pengertian. Dalam pengertian tradisional tanah adalah medium alami untuk pertumbuhan tanaman daratan, tanpa memperhitungkan tanah tersebut mempunyai horizon yang keliatan atau tidak. Pengertian ini masih merupakan arti yang paling umum dari kata tersebut, dan perhatian yang terbesar pada tanah terpusat pada pengertian ini. Orang menganggap tanah adalah penting, oleh karena tanah mendukung kehidupan tanam-tanaman yang memaso pangan, serat, obat-obatan, dan berbagai keperluan lain manusia, juga karena mampu menyaring air serta mendaur ulang limbah. Tanah menutupi permukaan bumi sebagai lapisan yang sambung menyambung, terkecuali pada batuan tandus, pada wilayah yang terus menerus membeku, atau tertutup air dalam, atau pada lapisan es
terbuka suatu glester. Dalam pengertian ini, tanah memiliki suatu ketebalan yang ditentukan oleh kedalaman akar tanaman.

Tanah merupakan suatu benda alam yang tersusun dari padatan (bahan mineral dan bahan organik), cairan dan gas, yang menempati permukaan daratan, menempati ruang, dan dicirikan oleh salah satu atau kedua berikut: horison-horison, atau lapisan-lapisan, yang dapat dibedakan dari bahan asalnya sebagai hasil dari suatu proses penambahan, kehilangan, pemindahan dan transformasi energi dan materi, atau berkemampuan mendukung tanaman berakar di dalam suatu lingkungan alami (Soil Survey Staff, 1999).

Schoeder (1972) mendefinisikan tanah sebagai suatu sistem tiga fase yang mengandung air, udara dan bahan-bahan mineral dan organik serta jasad-jasad hidup, yang karena pengaruh berbagai faktor lingkungan pada permukaan bumi dan kurun waktu, membentuk berbagai hasil perubahan yang memiliki ciri-ciri morfologi yang khas, sehingga berperan sebagai tempat tumbuh bermacam-macam tanaman. Menurut Jooffe dan Marbut (1949), dua orang ahli Ilmu Tanah dari Amerika Serikat, Tanah adalah tubuh alam yang terbentuk dan berkembang sebagai akibat bekerjanya gaya-gaya alam terhadap bahan-bahan alam dipermukaan bumi. Tubuh alam ini dapat berdiferensiasi membentuk horizon-horizon mieneral maupun organik yang kedalamannya beragam dan berbeda-beda sifat- sifatnya dengan bahan induk yang terletak dibawahnya dalam hal morfologi, komposisi kimia, sifat-sifat fisik maupun kehidupan biologinya. Ada tiga hal penting yang dari definisi ini :

•     Tanah itu terbentuk dan berkembang dari proses-proses alami

•    Adanya diferensiasi profil tanah membentuk horizon-horizon

•    Terdapat perbedaan yang menyolok antara sifat-sifat bahan induk

Tanah adalah hasil dari pelapukan batuan selama jutaan tahun Tanah disebut subur jika: keadaan fisik, biologis, maupun kimia dalam keadaan baik dan seimbang. Fisik = gembur (udara mudah bersirkulasi) Biologis= banyak aktivitas organisme (cacing & bakteri pembusuk) Kimia = susunan zat haranya mencukupi Tanah Subur Ciri tanah subur jika dilihat akan nampak kehitaman karena banyak humus dan jika dipegang gembur.

Profil Tanah Jika tanah dipotong melintang maka bagian yang tersubur ada di bagian atas karena banyak mengandung humus Humus Sampah dari daun, ranting yang membusuk yang nantinya jadi humus Lapisan atas Lapisan bawah Lapisan bahan induk Lapisan batuan induk

Hans Jenny (1899-1992), seorang pakar tanah asal Swis yang bekerja di Amerika Serikat, menyebutkan bahwa tanah terbentuk dari bahan induk yang telah mengalami modifikasi/pelapukan akibat dinamika faktor iklimorganisme (termasuk manusia), dan relief permukaan bumi (topografi) seiring dengan berjalannya waktu. Berdasarkan dinamika kelima faktor tersebut terbentuklah berbagai jenis tanah dan dapat dilakukan klasifikasi tanah.

  1. KARAKTERISTIK

Tubuh tanah (solum) tidak lain adalah batuan yang melapuk dan mengalami proses pembentukan lanjutan. Usia tanah yang ditemukan saat ini tidak ada yang lebih tua daripada periode Tersier dan kebanyakan terbentuk dari masa Pleistosen.

 

Tubuh tanah terbentuk dari campuran bahan organik dan mineral. Tanah non-organik atau tanah mineral terbentuk dari batuan sehingga ia mengandung mineral. Sebaliknya, tanah organik (organosol/humosol) terbentuk dari pemadatan terhadap bahan organik yang terdegradasi.

 

 

 

BAB II

PEMBAHAAN

  1. A.    PH Tanah
  • Sebuah ukuran keasaman atau kebasaan tanah yang.
  • Netral = 7,0
  • Asam <7,0
  • Alkaline> 7.0
  • Skala logaritmik yang berarti bahwa penurunan 1 unit pH merupakan peningkatan 10 kali lipat dalam keasaman.

Tanah pH dan pertumbuhan tanaman

  • Mempengaruhi ketersediaan hara tanaman (secara umum, pH yang optimal adalah antara 5,5-7,5)
  • PH tanah rendah (<6,0) menghasilkan peningkatan di Al. Aluminium adalah racun bagi tanaman
  • Mempengaruhi ketersediaan logam beracun (pada umumnya, lebih tersedia di tanah asam)
  • Mempengaruhi aktivitas mikroorganisme tanah, sehingga mempengaruhi siklus hara dan risiko penyakit

 

 

 

 

 

Ketersediaan nutrisi

 

Peningkatan pH tanah: Pengapuran bahan (kalsium karbonat murni atau kapur dolomitic) akan meningkatkan pH tanah.

  1. Kapur adalah produk organik bersertifikat
  2. Lambat-rilis produk. Jangan menambahkan setiap tahun.
  3. 15-25 lbs kapur per 1000 sq ft direkomendasikan

Abu kayu produk lain untuk meningkatkan pH tanah. Mereka juga merupakan sumber K, Ca, dan Mg. Beberapa kompos juga dapat meningkatkan pH tanah.

Gypsum adalah kalsium sulfat. Ini bukan pengganti kapur, dan memiliki pengaruh yang kecil pada pH tanah. Gypsum hanya memperbaiki struktur di tanah yang memiliki kandungan natrium yang sangat tinggi (langka di NW).

Penurunan pH tanah: Beberapa tanaman berkembang di bawah kondisi asam (ex. rhododendron, blueberry, dan azalea). Elemen sulfur sering dianjurkan (£ 50 S per 1000 sq ft). Amonium dan amonium-membentuk pupuk N juga akan mengakibatkan penurunan pH tanah.

Kami tertarik pada pH tanah karena memainkan peran penting dalam pertumbuhan tanaman. PH tanah mempengaruhi banyak aspek produksi tanaman dan kimia tanah, termasuk ketersediaan nutrisi dan zat-zat beracun, kegiatan dan sifat populasi mikroba, kelarutan logam berat, dan aktivitas pestisida tertentu. PH tanah mudah ditentukan dan, seperti mengambil suhu Anda ketika Anda sakit, memberikan kita beberapa informasi, cepat berharga yang akan mengaktifkan “Dokter Tanaman” untuk meresepkan prosedur korektif.

Definisi pH tanah.

pH didefinisikan sebagai logaritma negatif dari konsentrasi ion hidrogen (H +). Ketika air mengionisasi H + dan OH-(larutan netral), baik H + dan OH-ion dalam konsentrasi yang sama 0,0000001 mol per liter.

Hoh H <?> + + OH-

[H +] = [OH-] = 1 x 10 -7 mol / liter. H + dan OH-ion konsentrasi dalam air sangat kecil.

Skala pH telah dirancang untuk mudah mengekspresikan konsentrasi kecil ini dengan mengungkapkan

pH = log 1 / [H +]

Lihat definisi sederhana dari pH pada pH Sederhana

Ketika konsentrasi hidrogen lebih besar, seperti 0,0001 mol per liter, pH 4, ketika itu lebih kecil, seperti 0,00000001, pH 8. Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa ketika perubahan pH dari satu unit ke unit lain, perubahan konsentrasi ion hidrogen adalah perubahan sepuluh kali lipat, tidak hanya satu. Jadi pH 5 adalah asam sepuluh kali lebih dari pH 6 dan asam 100 kali lebih dari pH 7.

 

Penyebab Tanah Asam

PH tanah sangat tergantung pada bahan induk, iklim, vegetasi asli, sejarah tanam (untuk tanah pertanian) dan praktek pupuk atau pengapuran.

Kisaran pH untuk tanah mineral yang paling akan 5,5-7,5. Ini juga merupakan kisaran untuk sebagian besar tanah ditemukan di Minnesota.

 

Peta di atas menunjukkan bahwa bagian timur negara telah sebagian besar tanah asam, sedangkan bagian barat memiliki tanah alkali. Tanah menjadi asam ketika curah hujan larut pergi kation dasar (yang menyediakan ion OH-). Akhirnya semua Ca + +, Mg + + dan kation lainnya digantikan oleh ion H +.

Exchangeable hidrogen adalah sumber utama dari H + sampai pH tanah berjalan di bawah 6. Di bawah 6, aluminium ditukarkan menjadi sumber ion hidrogen, karena disosiasi Al dari mineral lempung. Untuk mempermudah, kita akan menggunakan “H ditukarkan” istilah untuk penyebab tanah asam. Lihat Reaksi Kimia. untuk persamaan dengan aluminium.

Tanah cenderung menjadi asam sebagai akibat dari: (1) air hujan pencucian pergi ion dasar (kalsium, magnesium, potasium dan sodium), (2) karbon dioksida dari bahan organik yang terdekomposisi dan respirasi akar dilarutkan dalam air tanah untuk membentuk asam organik lemah ; (3) pembentukan asam organik dan anorganik yang kuat, seperti asam nitrat dan sulfat, dari materi organik yang membusuk dan oksidasi amonium dan pupuk belerang. Tanah sangat asam biasanya merupakan hasil dari tindakan asam organik dan anorganik yang kuat.

Sumber ion H + dalam tanah:

1) disosiasi asam karbonat, yang membentuk mudah dalam tanah ketika CO 2 hadir;

2) Asam organik yang terbentuk selama dekomposisi bahan organik;

3) pembakaran batubara di pembangkit listrik melepaskan sulfur ke atmosfer yang ditambahkan ke tanah pada saat curah hujan sebagai asam sulfat, dan pupuk yang mengandung belerang, yang menambahkan H +;

4) konversi dari NH 4 + NO 3 - rilis H + selama siklus nitrogen atau ketika pupuk nitrogen ditambahkan ke tanah.

pH <4,0 = menunjukkan bahwa tanah mengandung asam bebas mungkin sebagai akibat oksidasi sulfide.

pH <5,5 = menunjukkan bahwa kompleks pertukaran tanah didominasi oleh Al
pH <7,8 = pH tanah dikontrol oleh berbagai factor

pH> 7,8 = menunjukkan bahwa tanah mengandung CaCO 3

Dimana pencucian minimal, konsentrasi kation dasar (Ca + +, Mg + +, K +, dan Na +) di kompleks pertukaran akan menjadi besar. Ini kation dasar akan berasal dari pelapukan batuan dan mineral, dari debu ditiup pada tanah, dari air irigasi atau air limpasan. Ketika kation dasar berdisosiasi dalam larutan tanah, mereka akan menghasilkan ion hidroksil (OH-). Ini akan menaikkan pH tanah.

pH tanah mengacu pada konsentrasi ion hidrogen dalam larutan tanah – tidak pada kompleks pertukaran Kita akan membahas nanti bagaimana ini akan mempengaruhi pH tanah.

Penentuan pH Tanah

 

 

 

 

 

 

 

Salah satu metode untuk menentukan pH tanah adalah dengan menggunakan pewarna indikator pH. Gambar ini menunjukkan pewarna indikator pH kit disebut Poli D. Ini mudah digunakan dan memberikan nilai pH yang cocok untuk sebagian besar tanah. Pewarna indikator ditambahkan ke tanah di tempat piring sampai jenuh. Solusinya adalah dengan menggunakan spatula diaduk kecil. Solusi ini akan berubah warna tergantung pada pH tanah. Warna solusi dibandingkan dengan kartu warna yang telah dikalibrasi untuk berbagai pembacaan pH. (Pastikan untuk membersihkan piring tempat bila Anda melalui.)
Tanah pH test kit yang Anda dapatkan dari pusat taman untuk di bawah $ 15 akan memberikan hasil variabel. Tiga alat tes yang berbeda dan 1 meter elektronik ($ 15) dibandingkan dengan Lamotte kit laboratorium kelas tanah dan semua 4 berbeda. Lamotte adalah satu-satunya yang memberikan pembacaan yang berbeda ketika menguji pupuk kandang, kompos, gambut, dan gambut dengan kapur. Setengah-langkah bergerak pH jelas terlihat, sementara yang lain hanya menebak.

 

 

 

 

 

Penentuan yang lebih akurat dapat dibuat dengan menggunakan pH meter dan elektroda kaca. Konduktansi listrik larutan diukur dengan menggunakan meter. Konduktansi ini berkorelasi dalam mesin untuk nilai-nilai pH yang dibaca langsung.

Metodologi: Ada tiga metode yang diterima secara internasional utama yang tersedia untuk mengukur pH tanah. Semua dari mereka bergantung pada gemetar (atau mengaduk) tanah dengan solusi untuk jam 1-2 dan kemudian menentukan pH dari bubur tanah yang dihasilkan.

 

 

  1. 1.        Timbang 5 g tanah menjadi berlabel plastik 50 ml (polypropylene) tabung
  2. 2.        Tambahkan salah satu dari 3 solusi menyusul) 25 mL air suling. (Ini adalah metode paling
  3. 3.        sederhana dan biasanya OK untuk sebagian besar tanah. Ini tidak menghapus + H dari situs pertukaran dan tidak sangat baik untuk kadar garam tanah yang tinggi) b) 25 ml 1 M KCl (digunakan untuk menutupi perbedaan dalam garam tanah dalam konten). Berguna jika menentukan kation exchangable baik sebagai kation dan pH dapat dilakukan pada sampel yang sama. Itu tidak menggantikan H + dari situs pertukaran kation tanah itu, sehingga hasilnya biasanya sedikit lebih rendah daripada yang diperoleh dengan metode (a) dan (c) c). 25 mL 0,01 M CaCl 2. Ini adalah perantara antara metode (a) dan (c) dan masker perbedaan kecil dalam konten garam tanah itu.
  4. 4.        Kocok selama 1 jam pada suhu kamar (25 ° C)
  5. 5.        Biarkan tanah menetap selama beberapa menit (misalnya min 3) dan mengukur pH setelah titik dua (pH 4 dan pH 7) kalibrasi pH meter
  6. 6.         Biasanya 2 ulangan dilakukan untuk setiap sampel tanah
  7. 7.         Lapangan tanah lembab (toko pada 5 ° C) sebaiknya digunakan.

Sampel Anda mengukur di laboratorium akan telah pra-terguncang dan meter dikalibrasi. Anda hanya akan perlu untuk mengukur pH larutan.

Istilah deskriptif umumnya terkait dengan rentang tertentu dalam pH tanah adalah:
Sangat Asam, <Dari 4,5; Jeruk = 2,5; Cuka = 3,0; Asam Lambung = 2,0; Soda = 2 – 4

Sangat Kuat, Asam 4,5-5,0; Bir = 4,5-5,0; Tomat = 4,5

Sangat Asam 5,1-5,5; Wortel = 5,0; Asparagus = 5,5; Asam Borat = 5.2; Kubis = 5,3

Cukup Asam, 5,6-6,0; Kentang = 5,6

Sedikit Asam, 6,1-6,5; Salmon = 6,2; Susu Sapi = 6,5

Netral, 6,6-7,3; Air Liur = 6,6-7,3; Darah = 7,3; Udang = 7,0

Sedikit Basa, 7,4-7,8; Telur = 7,6-7,8

Cukup Basa, 7,9-8,4; Air Laut = 8,2; Natrium Bikarbonat = 8,4

Sangat Basa, 8,5-9,0; Boraks = 9,0

Sangat Kuat Alkali,> Dari 9,1; Susu Magnesium = 10,5, Amonia = 11; Kapur = 12

Ada beberapa alat ukur reaksi tanah yang dapat digunakan. Alat yang murah ialah kertas lakmus yang bentuknya berupa gulungan kertas kecil memanjang. Alat lain yang harganya sedikit mahal tetapi dapat dipakai berulang kali dengan hasil pengukuran lebih terjamin adalah pH tester dan soil tester.

Pemakaian kertas lakmus sangat mudah, caranya yaitu : mengambil tanah lapisan dalam, lalu larutkan dengan air murni (aquadest) dalam wadah. Biarkan tanahnya terendam di dasar wadah sehingga airnya menjadi bening kembali. Setelah bening, air tersebut dipindahkan ke wadah lain secara hati‑hati agar tidak keruh. Selanjutnya, ambil sedikit kertas lakmus dan celupkan ka dalam air tersebut. Dalam beberapa saat kertas lakmus akan berubah warna. Cocokan warna pada kertas lakmus dengan skala yang ada pada kemasan kertas lakmus. Skala tersebut telah dilengkapi dengan angka pH masing‑masing Warna. Angka pH tanah tersebut adalah angka dari warna pada kemasan yang cocok dengan warna kertas lakmus Misalnya, angka yang cocok adalah 6 maka pH‑nya 6.

Jenis tanah masam diantaranya terdapat pada tanah ordo Ultisol. Ultisol dibentuk oleh proses pelapukan dan pembentukan tanah yang sangat intensif karena berlangsung dalam lingkungan iklim tropika dan subtropika yang bersuhu panas dan bercurah hujan tinggi dengan vegetasi klimaksnya hutan rimba. Dalam lingkungan semacam ini reaksi hidrolisis dan asidolisis serta proses pelindian (leaching) terpacu sangat cepat dan kuat. Asidolisis berlangsung kuat karena air infiltrasi dan perkolasi mengambil CO2 hasil mineralisasi bahan organik berupa serasah hutan dan hasil pernafasan akar tumbuhan hutan (Yulnafatmawita, 2008).

 

  1. B.     Kapasitas Pertukaran Kation Kation & Bursa

Kation-Exchange Kapasitas

Kation adalah sebuah ion bermuatan positif. Kebanyakan nutrisi kation: Ca2 +, Mg2 +, K +, NH4 +, Zn2 +, Cu2 +, dan Mn2 +. Ini kation dalam larutan tanah dan berada dalam kesetimbangan dinamis dengan kation teradsorpsi pada permukaan tanah liat dan bahan organik. CEC adalah ukuran kuantitas kation yang dapat diserap dan dipegang oleh suatu tanah.

KTK tergantung pada jumlah bahan organik dan tanah liat dalam tanah dan pada jenis tanah liat. Secara umum, isi OM dan tanah liat yang lebih tinggi, semakin tinggi CEC.

Tanah Kation Exchange – Para pertukaran antara kation dalam larutan dan kation lain pada permukaan materi bermuatan negatif seperti tanah liat atau bahan organik. Apa yang menentukan jika kation pada kompleks pertukaran atau dalam larutan tanah.

Pertukaran kation dipengaruhi oleh:

1)      kekuatan adsorpsi: Kuat adsorpsi »Al +3> Ca2 +> Mg2 +> K + = NH 4 +> Na +> H +» adsorpsi Lemah

2)      konsentrasi relatif dari kation dalam larutan tanah.

Jadi, pada satu waktu jumlah ion di bursa dibandingkan dengan apa yang ada dalam larutan tanah ditentukan oleh jenis ion hadir dan kuantitas dalam tanah. Lihatlah diagram untuk pertukaran kation: CE Diagram

Kapasitas Pertukaran kation (KTK) adalah kemampuan tanah untuk memegang nutrisi dan mencegah mereka dari pencucian luar akar. Kapasitas tukar kation tanah lebih memiliki, tanah semakin besar kemungkinan akan memiliki tingkat kesuburan yang lebih tinggi. Ketika dikombinasikan dengan langkah-langkah lain dari kesuburan tanah, KTK adalah indikator yang baik dari kualitas tanah dan produktivitas.

Pertukaran kation kapasitas tanah hanyalah sebuah ukuran jumlah situs di permukaan tanah yang dapat mempertahankan ion bermuatan positif oleh gaya elektrostatik. Elektrostatis kation dipertahankan mudah ditukarkan dengan kation lain dalam larutan tanah dan dengan demikian tersedia untuk serapan tanaman. Jadi, CEC adalah penting untuk menjaga jumlah kalsium yang cukup tanaman tersedia (Ca + +), magnesium (Mg + +) dan kalium (K +) dalam tanah. Kation lainnya termasuk Al + + + (saat pH <5,5), Na +, dan H +.

Kapasitas Pertukaran kation dapat dinyatakan dua cara:

1)      jumlah adsorpsi kation situs per satuan berat tanah atau

2)       jumlah total kation dipertukarkan bahwa tanah dapat menyerap.

Tanah CEC biasanya dinyatakan dalam satuan biaya per berat tanah. Dua set berbeda, tapi setara numerik unit yang digunakan: meq/100 g (miliekuivalen elemen per 100 g tanah kering) atau cmolc / kg (centimoles biaya per kilogram tanah kering).

Satuan miliekuivalen (meq) per 100 g tanah kering oven digunakan untuk lebih mencerminkan itu adalah muatan dalam tanah yang menentukan berapa banyak kation dapat tertarik. Setara berat unsur merupakan berat molekul atau atom (g) ÷ valensi, atau biaya per rumus miliekuivalen (meq). Satu meq berat. CEC 6,02 x 10 20 situs adsorpsi. Situs pertukaran kation ditemukan terutama pada tanah liat dan zat organik (OM) permukaan.

 

 

Meq Berat Elemen Kation Umum
Elemen K + Na + Ca + + Mg + +
Valensi 1 1

2

2
Atom Wt. g 39 23 40 24
Meq Wt. g .039 .023 .020 .012

Normal berkisar di tanah CEC akan berasal dari <1 meq/100 g, untuk tanah berpasir rendah dalam OM, untuk> 25 meq/100 g untuk tanah yang tinggi dalam beberapa jenis tanah liat atau OM. Tanah OM akan mengembangkan KTK lebih besar pada pH netral dekat daripada di bawah kondisi asam. Penambahan bahan organik akan meningkatkan KTK tanah itu. KTK tanah juga dapat menurunkan dengan waktu melalui pengasaman dan dekomposisi OM.

Memprediksi KTK

KTK perkiraan dapat dibuat berdasarkan tekstur dan jumlah materi organik tanah.
1). Estimasi berdasarkan pada tekstur:

Tekstur Tanah KTK &
Tekstur Pasir LS ke SL Lempung Liat lempung Tanah liat
KTK MEQ/100g 0-3 3-10 10-15 10-30 > 30

2). Perhitungan KTK dengan tanah liat% dan% OM. Dengan formula ini mengasumsikan avg. CEC untuk% OM = 200 meq/100g dan avg. CEC tanah liat% = 50 meq/100g.  Oleh karena itu: KTK = (% OM x 200) + (% Tanah Liat x 50)  Dari data tanah: tanah dengan 2% (0,02) dan 10% OM (0,1) Tanah Liat

KTK = (200 x 0,02 + (50 x .1) = (4 + 5) = 9 meq/100 g

  1. C.    Definisi Bahan Organik

Bahan organik adalah kumpulan beragam senyawa-senyawa organik kompleks yang sedang atau telah mengalami proses dekomposisi, baik berupa humus hasil humifikasi maupun senyawa-senyawa anorganik hasil mineralisasi dan termasuk juga mikrobia heterotrofik dan ototrofik yang terlibat dan berada didalamnya.

Sumber Bahan Organik Tanah

Bahan organik tanah dapat berasal dari:

  1. sumber primer, yaitu: jaringan organik tanaman (flora) yang dapat berupa: (a) daun, (b) ranting dan cabang, (c) batang, (d) buah, dan (e) akar.
  2. sumber sekunder, yaitu: jaringan organik fauna, yang dapat berupa: kotorannya dan mikrofauna.
  3. sumber lain dari luar, yaitu: pemberian pupuk organik berupa: (a) pupuk kandang, (b) pupuk hijau, (c) pupuk bokasi (kompos), dan (d) pupuk hayati.

 

 

 

Bahan organik memiliki peran penting dalam menentukan kemampuan tanah untuk mendukung tanaman, sehingga jika kadar bahan organik tanah menurun, kemampuan tanah dalam mendukung produktivitas tanaman juga menurun. Menurunnya kadar bahan organik merupakan salah satu bentuk kerusakan tanah yang umum terjadi. Kerusakan tanah merupakan masalah penting bagi negara berkembang karena intensitasnya yang cenderung meningkat sehingga tercipta tanah-tanah rusak yang jumlah maupun intensitasnya meningkat.

Kerusakan tanah secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga

kelompok utama, yaitu kerusakan sifat kimia, fisika dan biologi tanah. Kerusakan kimia tanah dapat terjadi karena proses pemasaman tanah, akumulasi garamgaram (salinisasi), tercemar logam berat, dan tercemar senyawa-senyawa organic dan xenobiotik seperti pestisida atau tumpahan minyak bumi (Djajakirana, 2001). Terjadinya pemasaman tanah dapat diakibatkan penggunaan pupuk nitrogen buatan secara terus menerus dalam jumlah besar (Brady, 1990). Kerusakan tanah secara fisik dapat diakibatkan karena kerusakan struktur tanah yang dapat menimbulkan pemadatan tanah. Kerusakan struktur tanah ini dapat terjadi akibat pengolahan tanah yang salah atau penggunaan pupuk kimia secara terus menerus. Kerusakan biologi ditandai oleh penyusutan populasi maupun berkurangnya biodiversitas organisme tanah, dan terjadi biasanya bukan kerusakan sendiri, melainkan akibat dari kerusakan lain (fisik dan atau kimia). Sebagai contoh penggunaan pupuk nitrogen (dalam bentuk ammonium sulfat dan sulfur coated 6urea) yang terus menerus selama 20 tahun dapat menyebabkan pemasaman tanah sehingga populasi cacing tanah akan turun dengan drastis (Ma et al., 1990). Kehilangan unsur hara dari daerah perakaran juga merupakan fenomena umum pada sistem pertanian dengan masukan rendah. Pemiskinan hara terjadi utamanya pada praktek pertanian di lahan yang miskin atau agak kurang subur tanpa dibarengi dengan pemberian masukan pupuk buatan maupun pupuk organic yang memadai. Termasuk dalam kelompok ini adalah kehilangan bahan organic yang lebih cepat dari penambahannya pada lapisan atas. Dengan demikian terjadi ketidakseimbangan masukan bahan organik dengan kehilangan yang terjadi melalui dekomposisi yang berdampak pada penurunan kadar bahan organic dalam tanah. Tanah-tanah yang sudah mengalami kerusakan akan sulit mendukung pertumbuhan tanaman. Sifat-sifat tanah yang sudah rusak memerlukan perbaikan agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi kembali secara optimal.

Penyediaan hara bagi tanaman dapat dilakukan dengan penambahan pupuk baik organik maupun anorganik. Pupuk anorganik dapat menyediakan hara dengan cepat. Namun apabila hal ini dilakukan terus menerus akan menimbulkan kerusakan tanah. Hal ini tentu saja tidak menguntungkan bagi pertanian yang berkelanjutan. Meningkatnya kemasaman tanah akan mengakibatkan ketersediaan hara dalam tanah yang semakin berkurang dan dapat mengurangi umur produktif tanaman.

Menurut Lal (1995), pengelolaan tanah yang berkelanjutan berarti suatu upaya pemanfaatan tanah melalui pengendalian masukan dalam suatu proses untuk memperoleh produktivitas tinggi secara berkelanjutan, meningkatkan kualitas tanah, serta memperbaiki karakteristik lingkungan. Dengan demikian diharapkan kerusakan tanah dapat ditekan seminimal mungkin sampai batas yang dapat ditoleransi, sehingga sumberdaya tersebut dapat dipergunakan secara lestari dan dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang.

Bahan organik tanah berpengaruh terhadap sifat-sifat kimia, fisik, maupun biologi tanah. Fungsi bahan organik di dalam tanah sangat banyak, baik terhadap sifat fisik, kimia maupun biologi tanah, antara lain sebagai berikut (Stevenson, 1994): 7

  1. Berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap ketersediaan hara. Bahan organik secara langsung merupakan sumber hara N, P, S, unsur mikro maupun unsur hara esensial lainnya. Secara tidak langsung bahan organic membantu menyediakan unsur hara N melalui fiksasi N2 dengan cara menyediakan energi bagi bakteri penambat N2, membebaskan fosfat yang difiksasi secara kimiawi maupun biologi dan menyebabkan pengkhelatan unsur mikro sehingga tidak mudah hilang dari zona perakaran.
  2. Membentuk agregat tanah yang lebih baik dan memantapkan agregat yang telah terbentuk sehingga aerasi, permeabilitas dan infiltrasi menjadi lebih baik. Akibatnya adalah daya tahan tanah terhadap erosi akan meningkat.
  3. Meningkatkan retensi air yang dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman.
  4. Meningkatkan retensi unsur hara melalui peningkatan muatan di dalam tanah.
  5. Mengimmobilisasi senyawa antropogenik maupun logam berat yang masuk kedalam tanah.
  6. Meningkatkan kapasitas sangga tanah
  7.  Meningkatkan suhu tanah.
  8. Mensuplai energi bagi organisme tanah
  9. Meningkatkan organisme saprofit dan menekan organisme parasit bagi tanaman.

Selain memiliki dampak positif, penggunaan bahan organik dapat pula memberikan dampak yang merugikan. Salah satu dampak negatif yang dapat muncul akibat dari penggunaan bahan organik yang berasal dari sampah kota adalah meningkatnya logam berat yang dapat diasimilasi dan diserap tanaman, meningkatkan salinitas, kontaminasi dengan senyawa organik seperti poli khlorat bifenil, fenol, hidrocarburate polisiklik aromatic, dan asam-asam organic (propionic dan butirik) (de Haan, 1981 dalam Aguilar et al., 1997)

Faktor yang mempengaruhi pembentukan tanah juga harus diperhatikan karena mempengaruhi jumlah bahan organik. Miller et al. (1985) berpendapat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah bahan organik dalam tanah adalah sifat dan jumlah bahan organik yang dikembalikan, kelembaban tanah, temperatur tanah, tingkat aerasi tanah, topografi dan sifat penyediaan hara. 8

Faktor-faktor yang mempengaruhi dekomposisi bahan organik dapat dikelompokkan dalam tiga grup, yaitu 1) sifat dari bahan tanaman termasuk jenis tanaman, umur tanaman dan komposisi kimia, 2) tanah termasuk aerasi, temperatur, kelembaban, kemasaman, dan tingkat kesuburan, dan 3) faktor iklim terutama pengaruh dari kelembaban dan temperatur.

Bahan organik secara umum dibedakan atas bahan organik yang relative sukar didekomposisi karena disusun oleh senyawa siklik yang sukar diputus atau dirombak menjadi senyawa yang lebih sederhana, termasuk di dalamnya adalah bahan organik yang mengandung senyawa lignin, minyak, lemak, dan resin yang umumnya ditemui pada jaringan tumbuh-tumbuhan; dan bahan organik yang mudah didekomposisikan karena disusun oleh senyawa sederhana yang terdiri dari C, O, dan H, termasuk di dalamnya adalah senyawa dari selulosa, pati, gula dansenyawa protein.

Dari berbagai aspek tersebut, jika kandungan bahan organik tanah cukup, maka kerusakan tanah dapat diminimalkan, bahkan dapat dihindari. Jumlah bahan organik di dalam tanah dapat berkurang hingga 35% untuk tanah yang ditanami secara terus menerus dibandingkan dengan tanah yang belum ditanami atau belum dijamah (Brady, 1990). Young (1989) menyatakan bahwa untuk mempertahankan kandungan bahan organik tanah agar tidak menurun, diperlukan minimal 8 – 9 ton per ha bahan organik tiap tahunnya.

  1. D.    Salinitas tanah
  • Potensi masalah di tanah irigasi karena tingkat penguapan tinggi dan curah hujan tahunan yang rendah meninggalkan garam menumpuk.
  • Garam bisa berasal dari air irigasi, pupuk, kompos, dan pupuk kandang.
  • Garam dapat tercuci dengan perlahan-lahan menerapkan kelebihan air.
    • Tiga inci menghilangkan sekitar 50% dari garam larut.
    • Lima inci menghilangkan sekitar 90%.

 

 

 

 

Salinitas tanah dan Interpretasi

Konduktivitas (mmho / cm) Interpretasi
4 atau di atas Parah akumulasi garam. Dapat membatasi pertumbuhan banyak sayuran dan tanaman hias.
2 sampai 4 Moderatre akumulasi garam. Tidak akan membatasi pertumbuhan tanaman, tetapi mungkin memerlukan irigasi lebih sering.
kurang dari 2 Rendah garam akumulasi. Tidak akan mempengaruhi tanaman.

 

  1. E.     KAPUR DALAM TANAH

Kapur dalam tanah memiliki asosiasi dengan keberadaan kalsium dan magnesium tanah. Hal ini wajar, karena keberadaan kedua unsur tersebut sering ditemukan berasosiasi dengan karbonat. Secara umum pemberian kapur ke tanah dapat mempengaruhi sifat fisik dan kimia tanah serta kegiatan jasad renik tanah. Bila ditinjau dari sudut kimia, maka tujuan pengapuran adalah menetralkan kemasaman tanah. Perlu diketahui bahwa tanah yang memiliki kandungan kapur yang tinggi, belum tentu tanah tersebut juga memiliki tingkat kesuburan yang tinggi. bisa terjadi suatu kapur itu menjadi racun karena kapur akan menyerap unsur hara dari dalam tanah, dimana unsur hara tersebut dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya

Kadar kapur tertinggi sampai terendah adalah tanah alfisol, entisol, vertisol, rendzina, dan ultisol. Bahan induk pada tanah alfisol ialah kapur dengan jeluk air sekitar 50 m. Adapun bahan induk pada tanah vertisol ialah kapur dan gamping. Kemudian pada tanah rendzina bahan induknya juga kapur, karena pengangkatan karst. Bahan induk tanah entisol dan ultisol berturut-turut ialah abu vulkan serta konglomerat dan breksi.

Kanbdungan Ca dan mg yang tinggi dalam tanah berhubungan dengan taraf perkembangan tanah tersebut, semakin kuat pelindian / semakin tua tanahnya, akan semakin kecil pula kandungan kedua zat tersebut. Kadar tinggi berkaitan dengan pH yang netral atau agak kalis. Sebagai unsur hara makro Ca dan Mg mempunyai fungsi yang penting pada tanaman. Kalsium (Ca) berperan sebagai penyusun dinding sel tumbuhan dan sering pula menjonjotkan / menetralkan bahan racun dalam jaringan tanaman. Magnesium (Mg) merupakan komponen dari klorofil dan berperan pula dalam pembentukan lemak dan minyak pada tumbuhan. Kekurangan kedua zat ini dalam tanah dapat menghambat perkembangan normal pad jaringan muda.

Kandungan kapur dari setiap jenis tanah berbeda-beda. Bahkan kandungan kapur dari lapisan atas tentu berbeda dengan lapisan di bawahnya. Hal ini disebabkan oleh adanya proses pelindian kapur pada lapisan atas oleh air yang akan diendapkan pada lapisan bawahnya. Selain itu keberadaan kapur tanah sangat dipengaruhi oleh batuan induk yang ada disuatu lokasi. Dalam percobaan ini dilakukan analisis kapur dengan menggunakan metode gravimetric yang dikenal dengan penetapan kadar kapur setara tanah dengan menggunakan alat calcimeter dan khemikalia HCl. CO2 yang menguap dalam penentuan kapur akan diukur menurut reaksi :

CaCO3 + 2 HCL CaCl2 + H2O + CO2

  1. WARNA TANAH

Warna tanah merupakan sifat morfologi yang bersifat nyata dan mudah di kenali.  Warna tanah dapat di gunakan sebagai petunjuk sifat-sifat tanah seperti kandungan bahan organik, kondisi drainase, aerase serta  menggunakan warna tanah dalam mengklasifikasikan tanah dan mencirikan perbedaan horizon-horizon dalam tanah (Hakim,dkk., 1996)

 

Tanah dengan drainase yang terhambat biasanya banyak mengandung bahan organik pada lapisan atas (top soil), sehingga berwarna gelap.  Tanah bagian bawah memiliki sedikit bahan organik sehingga berwarna kelabu muda.  Bila drainase agak baik, air dan suhu menguntungkan untuk peristiwa kimia, besi (Fe) dalam tanah teroksidasi sehingga menjadi senyawa yang berwarna merah dan kuning (Foth D, 1998)

Warna tanah dapat di tentukan dengan buku warna standar dari Munsell Soil Colour Chart (MSCC), maliputi penentuan warna dasar (matriks).  Warna bidang struktur  selaput tanah liat .  Warna karatan atau konkresi, warna jalit, dan warna humus (Arief, 1994)

  1. TEKSTUR DAN KESUBURAN TANAH

Tanah yang banyak ditumbuhi tumbuh-tumbuhan lebih subur daripada tanah gundul atau ada tumbuh-tumbuhannya, karena didalamnya terkandung lapisan bunga tanah yang tidak terkena erosi. Akan tetap,ibila hutan-hutan ditebang tanpa batas, apalagi di daerah yang miring, maka erosi oleh air maupun angin dapat dengan mudah terjadi di tanah bekas injakan-injakan binatang.

Ciri-ciri tanah subur antara lain: tekstur dan struktur tananya baik, yaitu butir-butir tanahnya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil; banyak mengandung garam yang berguna untuk makanan tumbuh-tumbuhan; dan banyak mengandung air untuk melarutkan garam-garaman.

Tekstur tanah menunjukkan proporsi pelatif dari ukuran partikel-partikel tanah. Rentangan ukuran partikel yan terbesar dapat dijumpai dalam kelompok tamah lempung (clay) yang diameter partikel-partikelnya mempunyai ukuran 0,0002 mm hingga hamper sebesar molekul. Struktur tanah adalah susunan butir-butir suatu tanah. Pada umumnya, komposisi tanah terdiri dari 90% bahan mineral, 1-5% bahan organik, 0,9% udara dan air.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi tekstur tanah antara lain komposisi mineral dan batuan /  bahan induk, sifat, dan cepatnya proses pembentkan tanah lokal, serta umur relatif tanah.

Hubungan antara tekstur dan kesuburan tanah tidak selalu ada meskipun tekstur tanah dapat menentukan atau bepengaruh dalam beberapa hal berikut.

· Pengerjaan tanah, misalnya tanah berpasir di daerah iklim basah biasanya cepat terurai. Selain itu, tanah tersebut berkapasitas rendah dalam menahan air, sehingga mudah mongering. Dengan menambah bahan-bahan organis, maka kesuburan tanah tersebut dapat ditingkatkan.

· Pengerjaan tanah berpasir di daerah beriklim kering (arid). Tanah di sini meskipun kadar bahan makanannya cukup tinggi, tetapi nilai kesuburannya rendah karena minimnya presipitasi, pencucian, dan rendahnya kapasitas menahan air.

· Pengerjaan tanah lempung. Dipandang dari sudut mudah tidaknya dikerjakan dan komposisi kimiawinya, tanah lempung mempnyai sifat yang bermacam-macam, diantaranya bersifat plastis dan sukar untuk diolah bila basah, serta keras jika kering. Namun, di daerah iklimtrpis basah tanah lempung memiliki permeabilitas walaupun rendah.

Permeabilitas tanah adalah cepat lambatnya air meresap ke dalam tanah melalui pori-pori tanah baik kearah horizontal maupun ke arah vertical. Cepat  /  lambatnya perembesan air ini sangat ditentukan oleh tekstur tanah. Semakin kasar tekstur tanah semakin cepat perembesan air.

Ketebalan atau solum tanah menunjukkan berapa tebal tanah diukur dari permukaan sampai ke batuan induk. Erosi menyangkut banyaknya partikel-partikel tanah yang terpindahkan. Drainase adalah pengeringan air yang berlebihan pada tanah yang mencakup proses pengatusan dan pengaliran air yan berada dalam tanah atau permukaan tanah yang menggenang .

Di daerah yang mempunyai solum tanah dalam, drainase yang baik, tekstur halus, kemiringan lereng 1-2% dapat diusahakan secara intensif tanpa bahaya erosi atau penurunan produktivitas. Daerah seperti ini mempunyai kemampuan besar dan bila diusahakan hambatan. Kemampuan daerah bersolum tanah dangkal, drainase buruk, tekstur tanah sangat halus atau sangat kasar, dan berlereng curam adalah terbatas dan bila lahan itu digunakan banyak hambatannya.

Dilihat dari segi kesuburannnya, tanah dibedakan atas tanah-tanah muda, dewasa, tua, dan sangat tua.

 

Tanah Muda, berciri unsur hara atau zat makanan yang terkandung di dalamnya belum banyak sehingga belum subur.

Tanah Dewasa, berciri unsur hara atau zat makanan yang terkandung di dalamnya sangat banyak sehingga tanah ini sangat subur. Tanah iniah yang sangat baik untuk pertanian.

Tanah Tua, berciri unsur  atau zat hara makanan yang terkandung di dalamnya sangat berkurang.

Tanah Sangat Tua, berciri unsur hara atau zat makanan yang terkandung di dalamnya sudah sangat sedikit, bahkan hamper habis sehingga ada yang menyebutkan jenis tanah ini sebagai tanah yang mati. Tanah ini sagat tidak subur.

Tanah memerlukan unsur-unsur untuk berubah dan berkembang. Bahan makanan yang diperlukan tanah adalah: K, P, N, C, H, O, Na, Ca, S, Mg, Fe, Zn, B, Cu, dan Mn.

Apabila salah satu unsur tersebut tidak ada, maka tanaman yang ada tidak sempurna atau tidak dapat tumbuh. Untuk mengisi kekurangan bahan makana tanaman di dalam tanah,dapat digunakan pupuk. Berdasarkan asal (sususnan) senyawanya ada dua macam pupuk.

Pupuk Alam (pupuk organik), yaitu pupuk yang dihasilkan dari sisa-sisa tanaman , hewan, dan manusia seperti pupuk hijau, pupuk kandang, dan pupuk kompos. Pupuk ini dapat menyepar air hujan, memperbaiki daya mengikat air, mengurangi erosi, dan untuk perkembangan akar atau biji.

Pupuk Buatan (pupuk anorganik), yaitu pupuk yang dibuat dalam pabrik, yang terbagi dua jenis, yaitu pupuk tunggal, misalnya pupuk fosfat (P), pupuk kalium (K), pupuk nitrogen (N) yang dikenal pupuk urea, ammonium sulfat, dan ammonium klorida, serta pupuk majemuk, yaitu pupuk NP, NK, PK, NPK, dan lain-lain. Keuntungan pupuk pabrik adalah praktis, ringan, mudah larut, dan cepat bereaksi. Agar berhasil baik dalam pemupukan perlu diperhatikan :potensi tanah, jenis pupuk, dosis pemupukan waktu, dan cara pemberian pupuk.

BAB III

KESIMPULAN

 

Tanah sebagai benda alam mempunyai sifat-sifat yang bervariasi. Sifat tanah yang berbeda-beda pada berbagai tempat mencerminkan pengaruh dari berbagai faktor pembentuknya di alam. Tanah dipandang sebagai alat produksi pertanian, karena tanah berfungsi sebagai media tumbuhnya tanaman. Produktivitas tanaman pertanian yang diusahakan banyak ditentukan oleh sifat-sifat tanah yang bersangkutan, baik sifat fisika tanah, kimiawi tanah, maupun biologi tanah yang bersangkutan. Sebagai media tumbuhnya tanaman tanah mampu berperan sebagai:

  • Tempat berdirinya tanaman
  • Tempat menyediakan unsur-unsur hara yang diperlukan oleh tanaman
  • Tempat menyediakan air yang dibutuhkan oleh tanaman
  • Tempat menyediakan udara bagi pernafasan akar tanaman

b. Bahan Penyusun Tanah

Tanah bukan merupakan timbunan bahan padat yang mati dan statis, melainkan merupakan suatu proses yang dinamis dan hidup yang mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Setiap tanah tersusun dari bahan mineral, bahan organik, air tanah. Bahan mineral berasal dari hasil pelapukan batuan, sedangkan bahan organik berasal dari hasil penguraian organisme yang mati. Di dalam tanah selalu terjadi proses destruktif dan konstruktif. Proses destruktif adalah penguraian bahan mineral dan bahan organik. Sedangkan proses konstruktif adalah proses penyusunan kembali hasil penguraian bahan mineral dan bahan organik menjadi senyawa baru.

Adanya keempat komponen tanah tersebut, serta adanya dinamika di dalamnya, menyebabkan tanah mampu berperan sebagai media tumbuhnya tanaman. Perbandingan komponen-komponen tanah pada setiap tempat tergantung pada jenis tanah, lapisan tanah, pengaruh cuaca dan iklim serta campur tangan manusia.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

BAB I

DASAR TEORI

  1. A.     Definisi Tanah

 

1. Pendekatan Geologi (Akhir Abad XIX)

 

Tanah: adalah lapisan permukaan bumi yang berasal dari bebatuan yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam, sehingga membentuk regolit (lapisan partikel halus).

2. Pendekatan Pedologi (Dokuchaev 1870)

 

Pendekatan Ilmu Tanah sebagai Ilmu Pengetahuan Alam Murni. Kata Pedo =i gumpal tanah.
Tanah: adalah bahan padat (mineral atau organik) yang terletak dipermukaan bumi, yang telah dan sedang serta terus mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor: Bahan Induk, Iklim, Organisme, Topografi, dan Waktu.

 

3. Pendekatan Edaphologis (Jones dari Cornel University Inggris)

 

Kata Edaphos = bahan tanah subur.

Tanah adalah media tumbuh tanaman
Definisi Tanah (Berdasarkan Pengertian yang Menyeluruh)

 

Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh & berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, tanaman obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan.

  1. B.     Fungsi Tanah

 

  1. Tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran
  2. Penyedia kebutuhan primer tanaman (air, udara, dan unsur-unsur hara)
  3. Penyedia kebutuhan sekunder tanaman (zat-zat pemacu tumbuh: hormon, vitamin, dan asam-asam organik; antibiotik dan toksin anti hama; enzim yang dapat meningkatkan kesediaan hara)
  4. Sebagai habitat biota tanah, baik yang berdampak positif karena terlibat langsung atau tak langsung dalam penyediaan kebutuhan primer dan sekunder tanaman tersebut, maupun yang berdampak negatif karena merupakan hama & penyakit tanaman.

Dua Pemahaman Penting tentang Tanah:

  1. Tanah sebagai tempat tumbuh dan penyedia kebutuhan tanaman, dan
  2. Tanah juga berfungsi sebagai pelindung tanaman dari serangan hama & penyakit dan dampak negatif pestisida maupun limbah industri yang berbahaya.

 

  1. C.    Profil Tanah

Profil Tanah adalah irisan vertikal tanah dari lapisan paling atas hingga ke batuan induk tanah.

Profil dari tanah yang berkembang lanjut biasanya memiliki horison-horison sbb: O –A –

E – B – C – R.

Solum Tanah terdiri dari: O – A – E – B

Lapisan Tanah Atas meliputi: O – A

Lapisan Tanah Bawah : E – B

Keterangan:
O : Serasah / sisa-sisa tanaman (Oi) dan bahan organik tanah (BOT) hasil dekomposisi serasah (Oa)

A : Horison mineral ber BOT tinggi sehingga berwarna agak gelap

E : Horison mineral yang telah tereluviasi (tercuci) sehingga kadar (BOT, liat silikat, Fe dan Al) rendah tetapi pasir dan debu kuarsa (seskuoksida) dan mineral resisten lainnya tinggi, berwarna terang

B : Horison illuvial atau horison tempat terakumulasinya bahan-bahan yang tercuci dari harison diatasnya (akumulasi bahan eluvial).

C : Lapisan yang bahan penyusunnya masih sama dengan bahan induk (R) atau belum terjadi perubahan

R : Bahan Induk tanah

Kegunaan Profil Tanah

(1)   untuk mengetahui kedalaman lapisan olah (Lapisan Tanah Atas = O – A) dan solum tanah (O – A – E – B)

(2)   Kelengkapan atau differensiasi horison pada profil

(3) Warna Tanah

D.  Komponen Tanah

Komponen penyusun tanah :

(1) Bahan Padatan berupa bahan mineral

(2) Bahan Padatan berupa bahan organic

(3) Air

(4) Udara

Bahan tanah tersebut rata-rata 50% bahan padatan (45% bahan mineral dan 5% bahan organik), 25% air dan 25% udara.

 

  1. TANAH

Kata ”tanah” seperti banyak kata umum lainnya, mempunyai beberapa pengertian. Dalam pengertian tradisional tanah adalah medium alami untuk pertumbuhan tanaman daratan, tanpa memperhitungkan tanah tersebut mempunyai horizon yang keliatan atau tidak. Pengertian ini masih merupakan arti yang paling umum dari kata tersebut, dan perhatian yang terbesar pada tanah terpusat pada pengertian ini. Orang menganggap tanah adalah penting, oleh karena tanah mendukung kehidupan tanam-tanaman yang memaso pangan, serat, obat-obatan, dan berbagai keperluan lain manusia, juga karena mampu menyaring air serta mendaur ulang limbah. Tanah menutupi permukaan bumi sebagai lapisan yang sambung menyambung, terkecuali pada batuan tandus, pada wilayah yang terus menerus membeku, atau tertutup air dalam, atau pada lapisan es
terbuka suatu glester. Dalam pengertian ini, tanah memiliki suatu ketebalan yang ditentukan oleh kedalaman akar tanaman.

Tanah merupakan suatu benda alam yang tersusun dari padatan (bahan mineral dan bahan organik), cairan dan gas, yang menempati permukaan daratan, menempati ruang, dan dicirikan oleh salah satu atau kedua berikut: horison-horison, atau lapisan-lapisan, yang dapat dibedakan dari bahan asalnya sebagai hasil dari suatu proses penambahan, kehilangan, pemindahan dan transformasi energi dan materi, atau berkemampuan mendukung tanaman berakar di dalam suatu lingkungan alami (Soil Survey Staff, 1999).

Schoeder (1972) mendefinisikan tanah sebagai suatu sistem tiga fase yang mengandung air, udara dan bahan-bahan mineral dan organik serta jasad-jasad hidup, yang karena pengaruh berbagai faktor lingkungan pada permukaan bumi dan kurun waktu, membentuk berbagai hasil perubahan yang memiliki ciri-ciri morfologi yang khas, sehingga berperan sebagai tempat tumbuh bermacam-macam tanaman. Menurut Jooffe dan Marbut (1949), dua orang ahli Ilmu Tanah dari Amerika Serikat, Tanah adalah tubuh alam yang terbentuk dan berkembang sebagai akibat bekerjanya gaya-gaya alam terhadap bahan-bahan alam dipermukaan bumi. Tubuh alam ini dapat berdiferensiasi membentuk horizon-horizon mieneral maupun organik yang kedalamannya beragam dan berbeda-beda sifat- sifatnya dengan bahan induk yang terletak dibawahnya dalam hal morfologi, komposisi kimia, sifat-sifat fisik maupun kehidupan biologinya. Ada tiga hal penting yang dari definisi ini :

•     Tanah itu terbentuk dan berkembang dari proses-proses alami

•    Adanya diferensiasi profil tanah membentuk horizon-horizon

•    Terdapat perbedaan yang menyolok antara sifat-sifat bahan induk

Tanah adalah hasil dari pelapukan batuan selama jutaan tahun Tanah disebut subur jika: keadaan fisik, biologis, maupun kimia dalam keadaan baik dan seimbang. Fisik = gembur (udara mudah bersirkulasi) Biologis= banyak aktivitas organisme (cacing & bakteri pembusuk) Kimia = susunan zat haranya mencukupi Tanah Subur Ciri tanah subur jika dilihat akan nampak kehitaman karena banyak humus dan jika dipegang gembur.

Profil Tanah Jika tanah dipotong melintang maka bagian yang tersubur ada di bagian atas karena banyak mengandung humus Humus Sampah dari daun, ranting yang membusuk yang nantinya jadi humus Lapisan atas Lapisan bawah Lapisan bahan induk Lapisan batuan induk

Hans Jenny (1899-1992), seorang pakar tanah asal Swis yang bekerja di Amerika Serikat, menyebutkan bahwa tanah terbentuk dari bahan induk yang telah mengalami modifikasi/pelapukan akibat dinamika faktor iklimorganisme (termasuk manusia), dan relief permukaan bumi (topografi) seiring dengan berjalannya waktu. Berdasarkan dinamika kelima faktor tersebut terbentuklah berbagai jenis tanah dan dapat dilakukan klasifikasi tanah.

  1. KARAKTERISTIK

Tubuh tanah (solum) tidak lain adalah batuan yang melapuk dan mengalami proses pembentukan lanjutan. Usia tanah yang ditemukan saat ini tidak ada yang lebih tua daripada periode Tersier dan kebanyakan terbentuk dari masa Pleistosen.

 

Tubuh tanah terbentuk dari campuran bahan organik dan mineral. Tanah non-organik atau tanah mineral terbentuk dari batuan sehingga ia mengandung mineral. Sebaliknya, tanah organik (organosol/humosol) terbentuk dari pemadatan terhadap bahan organik yang terdegradasi.

 

 

 

BAB II

PEMBAHAAN

  1. A.    PH Tanah
  • Sebuah ukuran keasaman atau kebasaan tanah yang.
  • Netral = 7,0
  • Asam <7,0
  • Alkaline> 7.0
  • Skala logaritmik yang berarti bahwa penurunan 1 unit pH merupakan peningkatan 10 kali lipat dalam keasaman.

Tanah pH dan pertumbuhan tanaman

  • Mempengaruhi ketersediaan hara tanaman (secara umum, pH yang optimal adalah antara 5,5-7,5)
  • PH tanah rendah (<6,0) menghasilkan peningkatan di Al. Aluminium adalah racun bagi tanaman
  • Mempengaruhi ketersediaan logam beracun (pada umumnya, lebih tersedia di tanah asam)
  • Mempengaruhi aktivitas mikroorganisme tanah, sehingga mempengaruhi siklus hara dan risiko penyakit

 

 

 

 

 

Ketersediaan nutrisi

 

Peningkatan pH tanah: Pengapuran bahan (kalsium karbonat murni atau kapur dolomitic) akan meningkatkan pH tanah.

  1. Kapur adalah produk organik bersertifikat
  2. Lambat-rilis produk. Jangan menambahkan setiap tahun.
  3. 15-25 lbs kapur per 1000 sq ft direkomendasikan

Abu kayu produk lain untuk meningkatkan pH tanah. Mereka juga merupakan sumber K, Ca, dan Mg. Beberapa kompos juga dapat meningkatkan pH tanah.

Gypsum adalah kalsium sulfat. Ini bukan pengganti kapur, dan memiliki pengaruh yang kecil pada pH tanah. Gypsum hanya memperbaiki struktur di tanah yang memiliki kandungan natrium yang sangat tinggi (langka di NW).

Penurunan pH tanah: Beberapa tanaman berkembang di bawah kondisi asam (ex. rhododendron, blueberry, dan azalea). Elemen sulfur sering dianjurkan (£ 50 S per 1000 sq ft). Amonium dan amonium-membentuk pupuk N juga akan mengakibatkan penurunan pH tanah.

Kami tertarik pada pH tanah karena memainkan peran penting dalam pertumbuhan tanaman. PH tanah mempengaruhi banyak aspek produksi tanaman dan kimia tanah, termasuk ketersediaan nutrisi dan zat-zat beracun, kegiatan dan sifat populasi mikroba, kelarutan logam berat, dan aktivitas pestisida tertentu. PH tanah mudah ditentukan dan, seperti mengambil suhu Anda ketika Anda sakit, memberikan kita beberapa informasi, cepat berharga yang akan mengaktifkan “Dokter Tanaman” untuk meresepkan prosedur korektif.

Definisi pH tanah.

pH didefinisikan sebagai logaritma negatif dari konsentrasi ion hidrogen (H +). Ketika air mengionisasi H + dan OH-(larutan netral), baik H + dan OH-ion dalam konsentrasi yang sama 0,0000001 mol per liter.

Hoh H <?> + + OH-

[H +] = [OH-] = 1 x 10 -7 mol / liter. H + dan OH-ion konsentrasi dalam air sangat kecil.

Skala pH telah dirancang untuk mudah mengekspresikan konsentrasi kecil ini dengan mengungkapkan

pH = log 1 / [H +]

Lihat definisi sederhana dari pH pada pH Sederhana

Ketika konsentrasi hidrogen lebih besar, seperti 0,0001 mol per liter, pH 4, ketika itu lebih kecil, seperti 0,00000001, pH 8. Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa ketika perubahan pH dari satu unit ke unit lain, perubahan konsentrasi ion hidrogen adalah perubahan sepuluh kali lipat, tidak hanya satu. Jadi pH 5 adalah asam sepuluh kali lebih dari pH 6 dan asam 100 kali lebih dari pH 7.

 

Penyebab Tanah Asam

PH tanah sangat tergantung pada bahan induk, iklim, vegetasi asli, sejarah tanam (untuk tanah pertanian) dan praktek pupuk atau pengapuran.

Kisaran pH untuk tanah mineral yang paling akan 5,5-7,5. Ini juga merupakan kisaran untuk sebagian besar tanah ditemukan di Minnesota.

 

Peta di atas menunjukkan bahwa bagian timur negara telah sebagian besar tanah asam, sedangkan bagian barat memiliki tanah alkali. Tanah menjadi asam ketika curah hujan larut pergi kation dasar (yang menyediakan ion OH-). Akhirnya semua Ca + +, Mg + + dan kation lainnya digantikan oleh ion H +.

Exchangeable hidrogen adalah sumber utama dari H + sampai pH tanah berjalan di bawah 6. Di bawah 6, aluminium ditukarkan menjadi sumber ion hidrogen, karena disosiasi Al dari mineral lempung. Untuk mempermudah, kita akan menggunakan “H ditukarkan” istilah untuk penyebab tanah asam. Lihat Reaksi Kimia. untuk persamaan dengan aluminium.

Tanah cenderung menjadi asam sebagai akibat dari: (1) air hujan pencucian pergi ion dasar (kalsium, magnesium, potasium dan sodium), (2) karbon dioksida dari bahan organik yang terdekomposisi dan respirasi akar dilarutkan dalam air tanah untuk membentuk asam organik lemah ; (3) pembentukan asam organik dan anorganik yang kuat, seperti asam nitrat dan sulfat, dari materi organik yang membusuk dan oksidasi amonium dan pupuk belerang. Tanah sangat asam biasanya merupakan hasil dari tindakan asam organik dan anorganik yang kuat.

Sumber ion H + dalam tanah:

1) disosiasi asam karbonat, yang membentuk mudah dalam tanah ketika CO 2 hadir;

2) Asam organik yang terbentuk selama dekomposisi bahan organik;

3) pembakaran batubara di pembangkit listrik melepaskan sulfur ke atmosfer yang ditambahkan ke tanah pada saat curah hujan sebagai asam sulfat, dan pupuk yang mengandung belerang, yang menambahkan H +;

4) konversi dari NH 4 + NO 3 - rilis H + selama siklus nitrogen atau ketika pupuk nitrogen ditambahkan ke tanah.

pH <4,0 = menunjukkan bahwa tanah mengandung asam bebas mungkin sebagai akibat oksidasi sulfide.

pH <5,5 = menunjukkan bahwa kompleks pertukaran tanah didominasi oleh Al
pH <7,8 = pH tanah dikontrol oleh berbagai factor

pH> 7,8 = menunjukkan bahwa tanah mengandung CaCO 3

Dimana pencucian minimal, konsentrasi kation dasar (Ca + +, Mg + +, K +, dan Na +) di kompleks pertukaran akan menjadi besar. Ini kation dasar akan berasal dari pelapukan batuan dan mineral, dari debu ditiup pada tanah, dari air irigasi atau air limpasan. Ketika kation dasar berdisosiasi dalam larutan tanah, mereka akan menghasilkan ion hidroksil (OH-). Ini akan menaikkan pH tanah.

pH tanah mengacu pada konsentrasi ion hidrogen dalam larutan tanah – tidak pada kompleks pertukaran Kita akan membahas nanti bagaimana ini akan mempengaruhi pH tanah.

Penentuan pH Tanah

 

 

 

 

 

 

 

Salah satu metode untuk menentukan pH tanah adalah dengan menggunakan pewarna indikator pH. Gambar ini menunjukkan pewarna indikator pH kit disebut Poli D. Ini mudah digunakan dan memberikan nilai pH yang cocok untuk sebagian besar tanah. Pewarna indikator ditambahkan ke tanah di tempat piring sampai jenuh. Solusinya adalah dengan menggunakan spatula diaduk kecil. Solusi ini akan berubah warna tergantung pada pH tanah. Warna solusi dibandingkan dengan kartu warna yang telah dikalibrasi untuk berbagai pembacaan pH. (Pastikan untuk membersihkan piring tempat bila Anda melalui.)
Tanah pH test kit yang Anda dapatkan dari pusat taman untuk di bawah $ 15 akan memberikan hasil variabel. Tiga alat tes yang berbeda dan 1 meter elektronik ($ 15) dibandingkan dengan Lamotte kit laboratorium kelas tanah dan semua 4 berbeda. Lamotte adalah satu-satunya yang memberikan pembacaan yang berbeda ketika menguji pupuk kandang, kompos, gambut, dan gambut dengan kapur. Setengah-langkah bergerak pH jelas terlihat, sementara yang lain hanya menebak.

 

 

 

 

 

Penentuan yang lebih akurat dapat dibuat dengan menggunakan pH meter dan elektroda kaca. Konduktansi listrik larutan diukur dengan menggunakan meter. Konduktansi ini berkorelasi dalam mesin untuk nilai-nilai pH yang dibaca langsung.

Metodologi: Ada tiga metode yang diterima secara internasional utama yang tersedia untuk mengukur pH tanah. Semua dari mereka bergantung pada gemetar (atau mengaduk) tanah dengan solusi untuk jam 1-2 dan kemudian menentukan pH dari bubur tanah yang dihasilkan.

 

 

  1. 1.        Timbang 5 g tanah menjadi berlabel plastik 50 ml (polypropylene) tabung
  2. 2.        Tambahkan salah satu dari 3 solusi menyusul) 25 mL air suling. (Ini adalah metode paling
  3. 3.        sederhana dan biasanya OK untuk sebagian besar tanah. Ini tidak menghapus + H dari situs pertukaran dan tidak sangat baik untuk kadar garam tanah yang tinggi) b) 25 ml 1 M KCl (digunakan untuk menutupi perbedaan dalam garam tanah dalam konten). Berguna jika menentukan kation exchangable baik sebagai kation dan pH dapat dilakukan pada sampel yang sama. Itu tidak menggantikan H + dari situs pertukaran kation tanah itu, sehingga hasilnya biasanya sedikit lebih rendah daripada yang diperoleh dengan metode (a) dan (c) c). 25 mL 0,01 M CaCl 2. Ini adalah perantara antara metode (a) dan (c) dan masker perbedaan kecil dalam konten garam tanah itu.
  4. 4.        Kocok selama 1 jam pada suhu kamar (25 ° C)
  5. 5.        Biarkan tanah menetap selama beberapa menit (misalnya min 3) dan mengukur pH setelah titik dua (pH 4 dan pH 7) kalibrasi pH meter
  6. 6.         Biasanya 2 ulangan dilakukan untuk setiap sampel tanah
  7. 7.         Lapangan tanah lembab (toko pada 5 ° C) sebaiknya digunakan.

Sampel Anda mengukur di laboratorium akan telah pra-terguncang dan meter dikalibrasi. Anda hanya akan perlu untuk mengukur pH larutan.

Istilah deskriptif umumnya terkait dengan rentang tertentu dalam pH tanah adalah:
Sangat Asam, <Dari 4,5; Jeruk = 2,5; Cuka = 3,0; Asam Lambung = 2,0; Soda = 2 – 4

Sangat Kuat, Asam 4,5-5,0; Bir = 4,5-5,0; Tomat = 4,5

Sangat Asam 5,1-5,5; Wortel = 5,0; Asparagus = 5,5; Asam Borat = 5.2; Kubis = 5,3

Cukup Asam, 5,6-6,0; Kentang = 5,6

Sedikit Asam, 6,1-6,5; Salmon = 6,2; Susu Sapi = 6,5

Netral, 6,6-7,3; Air Liur = 6,6-7,3; Darah = 7,3; Udang = 7,0

Sedikit Basa, 7,4-7,8; Telur = 7,6-7,8

Cukup Basa, 7,9-8,4; Air Laut = 8,2; Natrium Bikarbonat = 8,4

Sangat Basa, 8,5-9,0; Boraks = 9,0

Sangat Kuat Alkali,> Dari 9,1; Susu Magnesium = 10,5, Amonia = 11; Kapur = 12

Ada beberapa alat ukur reaksi tanah yang dapat digunakan. Alat yang murah ialah kertas lakmus yang bentuknya berupa gulungan kertas kecil memanjang. Alat lain yang harganya sedikit mahal tetapi dapat dipakai berulang kali dengan hasil pengukuran lebih terjamin adalah pH tester dan soil tester.

Pemakaian kertas lakmus sangat mudah, caranya yaitu : mengambil tanah lapisan dalam, lalu larutkan dengan air murni (aquadest) dalam wadah. Biarkan tanahnya terendam di dasar wadah sehingga airnya menjadi bening kembali. Setelah bening, air tersebut dipindahkan ke wadah lain secara hati‑hati agar tidak keruh. Selanjutnya, ambil sedikit kertas lakmus dan celupkan ka dalam air tersebut. Dalam beberapa saat kertas lakmus akan berubah warna. Cocokan warna pada kertas lakmus dengan skala yang ada pada kemasan kertas lakmus. Skala tersebut telah dilengkapi dengan angka pH masing‑masing Warna. Angka pH tanah tersebut adalah angka dari warna pada kemasan yang cocok dengan warna kertas lakmus Misalnya, angka yang cocok adalah 6 maka pH‑nya 6.

Jenis tanah masam diantaranya terdapat pada tanah ordo Ultisol. Ultisol dibentuk oleh proses pelapukan dan pembentukan tanah yang sangat intensif karena berlangsung dalam lingkungan iklim tropika dan subtropika yang bersuhu panas dan bercurah hujan tinggi dengan vegetasi klimaksnya hutan rimba. Dalam lingkungan semacam ini reaksi hidrolisis dan asidolisis serta proses pelindian (leaching) terpacu sangat cepat dan kuat. Asidolisis berlangsung kuat karena air infiltrasi dan perkolasi mengambil CO2 hasil mineralisasi bahan organik berupa serasah hutan dan hasil pernafasan akar tumbuhan hutan (Yulnafatmawita, 2008).

 

  1. B.     Kapasitas Pertukaran Kation Kation & Bursa

Kation-Exchange Kapasitas

Kation adalah sebuah ion bermuatan positif. Kebanyakan nutrisi kation: Ca2 +, Mg2 +, K +, NH4 +, Zn2 +, Cu2 +, dan Mn2 +. Ini kation dalam larutan tanah dan berada dalam kesetimbangan dinamis dengan kation teradsorpsi pada permukaan tanah liat dan bahan organik. CEC adalah ukuran kuantitas kation yang dapat diserap dan dipegang oleh suatu tanah.

KTK tergantung pada jumlah bahan organik dan tanah liat dalam tanah dan pada jenis tanah liat. Secara umum, isi OM dan tanah liat yang lebih tinggi, semakin tinggi CEC.

Tanah Kation Exchange – Para pertukaran antara kation dalam larutan dan kation lain pada permukaan materi bermuatan negatif seperti tanah liat atau bahan organik. Apa yang menentukan jika kation pada kompleks pertukaran atau dalam larutan tanah.

Pertukaran kation dipengaruhi oleh:

1)      kekuatan adsorpsi: Kuat adsorpsi »Al +3> Ca2 +> Mg2 +> K + = NH 4 +> Na +> H +» adsorpsi Lemah

2)      konsentrasi relatif dari kation dalam larutan tanah.

Jadi, pada satu waktu jumlah ion di bursa dibandingkan dengan apa yang ada dalam larutan tanah ditentukan oleh jenis ion hadir dan kuantitas dalam tanah. Lihatlah diagram untuk pertukaran kation: CE Diagram

Kapasitas Pertukaran kation (KTK) adalah kemampuan tanah untuk memegang nutrisi dan mencegah mereka dari pencucian luar akar. Kapasitas tukar kation tanah lebih memiliki, tanah semakin besar kemungkinan akan memiliki tingkat kesuburan yang lebih tinggi. Ketika dikombinasikan dengan langkah-langkah lain dari kesuburan tanah, KTK adalah indikator yang baik dari kualitas tanah dan produktivitas.

Pertukaran kation kapasitas tanah hanyalah sebuah ukuran jumlah situs di permukaan tanah yang dapat mempertahankan ion bermuatan positif oleh gaya elektrostatik. Elektrostatis kation dipertahankan mudah ditukarkan dengan kation lain dalam larutan tanah dan dengan demikian tersedia untuk serapan tanaman. Jadi, CEC adalah penting untuk menjaga jumlah kalsium yang cukup tanaman tersedia (Ca + +), magnesium (Mg + +) dan kalium (K +) dalam tanah. Kation lainnya termasuk Al + + + (saat pH <5,5), Na +, dan H +.

Kapasitas Pertukaran kation dapat dinyatakan dua cara:

1)      jumlah adsorpsi kation situs per satuan berat tanah atau

2)       jumlah total kation dipertukarkan bahwa tanah dapat menyerap.

Tanah CEC biasanya dinyatakan dalam satuan biaya per berat tanah. Dua set berbeda, tapi setara numerik unit yang digunakan: meq/100 g (miliekuivalen elemen per 100 g tanah kering) atau cmolc / kg (centimoles biaya per kilogram tanah kering).

Satuan miliekuivalen (meq) per 100 g tanah kering oven digunakan untuk lebih mencerminkan itu adalah muatan dalam tanah yang menentukan berapa banyak kation dapat tertarik. Setara berat unsur merupakan berat molekul atau atom (g) ÷ valensi, atau biaya per rumus miliekuivalen (meq). Satu meq berat. CEC 6,02 x 10 20 situs adsorpsi. Situs pertukaran kation ditemukan terutama pada tanah liat dan zat organik (OM) permukaan.

 

 

Meq Berat Elemen Kation Umum
Elemen K + Na + Ca + + Mg + +
Valensi 1 1

2

2
Atom Wt. g 39 23 40 24
Meq Wt. g .039 .023 .020 .012

Normal berkisar di tanah CEC akan berasal dari <1 meq/100 g, untuk tanah berpasir rendah dalam OM, untuk> 25 meq/100 g untuk tanah yang tinggi dalam beberapa jenis tanah liat atau OM. Tanah OM akan mengembangkan KTK lebih besar pada pH netral dekat daripada di bawah kondisi asam. Penambahan bahan organik akan meningkatkan KTK tanah itu. KTK tanah juga dapat menurunkan dengan waktu melalui pengasaman dan dekomposisi OM.

Memprediksi KTK

KTK perkiraan dapat dibuat berdasarkan tekstur dan jumlah materi organik tanah.
1). Estimasi berdasarkan pada tekstur:

Tekstur Tanah KTK &
Tekstur Pasir LS ke SL Lempung Liat lempung Tanah liat
KTK MEQ/100g 0-3 3-10 10-15 10-30 > 30

2). Perhitungan KTK dengan tanah liat% dan% OM. Dengan formula ini mengasumsikan avg. CEC untuk% OM = 200 meq/100g dan avg. CEC tanah liat% = 50 meq/100g.  Oleh karena itu: KTK = (% OM x 200) + (% Tanah Liat x 50)  Dari data tanah: tanah dengan 2% (0,02) dan 10% OM (0,1) Tanah Liat

KTK = (200 x 0,02 + (50 x .1) = (4 + 5) = 9 meq/100 g

  1. C.    Definisi Bahan Organik

Bahan organik adalah kumpulan beragam senyawa-senyawa organik kompleks yang sedang atau telah mengalami proses dekomposisi, baik berupa humus hasil humifikasi maupun senyawa-senyawa anorganik hasil mineralisasi dan termasuk juga mikrobia heterotrofik dan ototrofik yang terlibat dan berada didalamnya.

Sumber Bahan Organik Tanah

Bahan organik tanah dapat berasal dari:

  1. sumber primer, yaitu: jaringan organik tanaman (flora) yang dapat berupa: (a) daun, (b) ranting dan cabang, (c) batang, (d) buah, dan (e) akar.
  2. sumber sekunder, yaitu: jaringan organik fauna, yang dapat berupa: kotorannya dan mikrofauna.
  3. sumber lain dari luar, yaitu: pemberian pupuk organik berupa: (a) pupuk kandang, (b) pupuk hijau, (c) pupuk bokasi (kompos), dan (d) pupuk hayati.

 

 

 

Bahan organik memiliki peran penting dalam menentukan kemampuan tanah untuk mendukung tanaman, sehingga jika kadar bahan organik tanah menurun, kemampuan tanah dalam mendukung produktivitas tanaman juga menurun. Menurunnya kadar bahan organik merupakan salah satu bentuk kerusakan tanah yang umum terjadi. Kerusakan tanah merupakan masalah penting bagi negara berkembang karena intensitasnya yang cenderung meningkat sehingga tercipta tanah-tanah rusak yang jumlah maupun intensitasnya meningkat.

Kerusakan tanah secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga

kelompok utama, yaitu kerusakan sifat kimia, fisika dan biologi tanah. Kerusakan kimia tanah dapat terjadi karena proses pemasaman tanah, akumulasi garamgaram (salinisasi), tercemar logam berat, dan tercemar senyawa-senyawa organic dan xenobiotik seperti pestisida atau tumpahan minyak bumi (Djajakirana, 2001). Terjadinya pemasaman tanah dapat diakibatkan penggunaan pupuk nitrogen buatan secara terus menerus dalam jumlah besar (Brady, 1990). Kerusakan tanah secara fisik dapat diakibatkan karena kerusakan struktur tanah yang dapat menimbulkan pemadatan tanah. Kerusakan struktur tanah ini dapat terjadi akibat pengolahan tanah yang salah atau penggunaan pupuk kimia secara terus menerus. Kerusakan biologi ditandai oleh penyusutan populasi maupun berkurangnya biodiversitas organisme tanah, dan terjadi biasanya bukan kerusakan sendiri, melainkan akibat dari kerusakan lain (fisik dan atau kimia). Sebagai contoh penggunaan pupuk nitrogen (dalam bentuk ammonium sulfat dan sulfur coated 6urea) yang terus menerus selama 20 tahun dapat menyebabkan pemasaman tanah sehingga populasi cacing tanah akan turun dengan drastis (Ma et al., 1990). Kehilangan unsur hara dari daerah perakaran juga merupakan fenomena umum pada sistem pertanian dengan masukan rendah. Pemiskinan hara terjadi utamanya pada praktek pertanian di lahan yang miskin atau agak kurang subur tanpa dibarengi dengan pemberian masukan pupuk buatan maupun pupuk organic yang memadai. Termasuk dalam kelompok ini adalah kehilangan bahan organic yang lebih cepat dari penambahannya pada lapisan atas. Dengan demikian terjadi ketidakseimbangan masukan bahan organik dengan kehilangan yang terjadi melalui dekomposisi yang berdampak pada penurunan kadar bahan organic dalam tanah. Tanah-tanah yang sudah mengalami kerusakan akan sulit mendukung pertumbuhan tanaman. Sifat-sifat tanah yang sudah rusak memerlukan perbaikan agar tanaman dapat tumbuh dan berproduksi kembali secara optimal.

Penyediaan hara bagi tanaman dapat dilakukan dengan penambahan pupuk baik organik maupun anorganik. Pupuk anorganik dapat menyediakan hara dengan cepat. Namun apabila hal ini dilakukan terus menerus akan menimbulkan kerusakan tanah. Hal ini tentu saja tidak menguntungkan bagi pertanian yang berkelanjutan. Meningkatnya kemasaman tanah akan mengakibatkan ketersediaan hara dalam tanah yang semakin berkurang dan dapat mengurangi umur produktif tanaman.

Menurut Lal (1995), pengelolaan tanah yang berkelanjutan berarti suatu upaya pemanfaatan tanah melalui pengendalian masukan dalam suatu proses untuk memperoleh produktivitas tinggi secara berkelanjutan, meningkatkan kualitas tanah, serta memperbaiki karakteristik lingkungan. Dengan demikian diharapkan kerusakan tanah dapat ditekan seminimal mungkin sampai batas yang dapat ditoleransi, sehingga sumberdaya tersebut dapat dipergunakan secara lestari dan dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang.

Bahan organik tanah berpengaruh terhadap sifat-sifat kimia, fisik, maupun biologi tanah. Fungsi bahan organik di dalam tanah sangat banyak, baik terhadap sifat fisik, kimia maupun biologi tanah, antara lain sebagai berikut (Stevenson, 1994): 7

  1. Berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap ketersediaan hara. Bahan organik secara langsung merupakan sumber hara N, P, S, unsur mikro maupun unsur hara esensial lainnya. Secara tidak langsung bahan organic membantu menyediakan unsur hara N melalui fiksasi N2 dengan cara menyediakan energi bagi bakteri penambat N2, membebaskan fosfat yang difiksasi secara kimiawi maupun biologi dan menyebabkan pengkhelatan unsur mikro sehingga tidak mudah hilang dari zona perakaran.
  2. Membentuk agregat tanah yang lebih baik dan memantapkan agregat yang telah terbentuk sehingga aerasi, permeabilitas dan infiltrasi menjadi lebih baik. Akibatnya adalah daya tahan tanah terhadap erosi akan meningkat.
  3. Meningkatkan retensi air yang dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman.
  4. Meningkatkan retensi unsur hara melalui peningkatan muatan di dalam tanah.
  5. Mengimmobilisasi senyawa antropogenik maupun logam berat yang masuk kedalam tanah.
  6. Meningkatkan kapasitas sangga tanah
  7.  Meningkatkan suhu tanah.
  8. Mensuplai energi bagi organisme tanah
  9. Meningkatkan organisme saprofit dan menekan organisme parasit bagi tanaman.

Selain memiliki dampak positif, penggunaan bahan organik dapat pula memberikan dampak yang merugikan. Salah satu dampak negatif yang dapat muncul akibat dari penggunaan bahan organik yang berasal dari sampah kota adalah meningkatnya logam berat yang dapat diasimilasi dan diserap tanaman, meningkatkan salinitas, kontaminasi dengan senyawa organik seperti poli khlorat bifenil, fenol, hidrocarburate polisiklik aromatic, dan asam-asam organic (propionic dan butirik) (de Haan, 1981 dalam Aguilar et al., 1997)

Faktor yang mempengaruhi pembentukan tanah juga harus diperhatikan karena mempengaruhi jumlah bahan organik. Miller et al. (1985) berpendapat bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah bahan organik dalam tanah adalah sifat dan jumlah bahan organik yang dikembalikan, kelembaban tanah, temperatur tanah, tingkat aerasi tanah, topografi dan sifat penyediaan hara. 8

Faktor-faktor yang mempengaruhi dekomposisi bahan organik dapat dikelompokkan dalam tiga grup, yaitu 1) sifat dari bahan tanaman termasuk jenis tanaman, umur tanaman dan komposisi kimia, 2) tanah termasuk aerasi, temperatur, kelembaban, kemasaman, dan tingkat kesuburan, dan 3) faktor iklim terutama pengaruh dari kelembaban dan temperatur.

Bahan organik secara umum dibedakan atas bahan organik yang relative sukar didekomposisi karena disusun oleh senyawa siklik yang sukar diputus atau dirombak menjadi senyawa yang lebih sederhana, termasuk di dalamnya adalah bahan organik yang mengandung senyawa lignin, minyak, lemak, dan resin yang umumnya ditemui pada jaringan tumbuh-tumbuhan; dan bahan organik yang mudah didekomposisikan karena disusun oleh senyawa sederhana yang terdiri dari C, O, dan H, termasuk di dalamnya adalah senyawa dari selulosa, pati, gula dansenyawa protein.

Dari berbagai aspek tersebut, jika kandungan bahan organik tanah cukup, maka kerusakan tanah dapat diminimalkan, bahkan dapat dihindari. Jumlah bahan organik di dalam tanah dapat berkurang hingga 35% untuk tanah yang ditanami secara terus menerus dibandingkan dengan tanah yang belum ditanami atau belum dijamah (Brady, 1990). Young (1989) menyatakan bahwa untuk mempertahankan kandungan bahan organik tanah agar tidak menurun, diperlukan minimal 8 – 9 ton per ha bahan organik tiap tahunnya.

  1. D.    Salinitas tanah
  • Potensi masalah di tanah irigasi karena tingkat penguapan tinggi dan curah hujan tahunan yang rendah meninggalkan garam menumpuk.
  • Garam bisa berasal dari air irigasi, pupuk, kompos, dan pupuk kandang.
  • Garam dapat tercuci dengan perlahan-lahan menerapkan kelebihan air.
    • Tiga inci menghilangkan sekitar 50% dari garam larut.
    • Lima inci menghilangkan sekitar 90%.

 

 

 

 

Salinitas tanah dan Interpretasi

Konduktivitas (mmho / cm) Interpretasi
4 atau di atas Parah akumulasi garam. Dapat membatasi pertumbuhan banyak sayuran dan tanaman hias.
2 sampai 4 Moderatre akumulasi garam. Tidak akan membatasi pertumbuhan tanaman, tetapi mungkin memerlukan irigasi lebih sering.
kurang dari 2 Rendah garam akumulasi. Tidak akan mempengaruhi tanaman.

 

  1. E.     KAPUR DALAM TANAH

Kapur dalam tanah memiliki asosiasi dengan keberadaan kalsium dan magnesium tanah. Hal ini wajar, karena keberadaan kedua unsur tersebut sering ditemukan berasosiasi dengan karbonat. Secara umum pemberian kapur ke tanah dapat mempengaruhi sifat fisik dan kimia tanah serta kegiatan jasad renik tanah. Bila ditinjau dari sudut kimia, maka tujuan pengapuran adalah menetralkan kemasaman tanah. Perlu diketahui bahwa tanah yang memiliki kandungan kapur yang tinggi, belum tentu tanah tersebut juga memiliki tingkat kesuburan yang tinggi. bisa terjadi suatu kapur itu menjadi racun karena kapur akan menyerap unsur hara dari dalam tanah, dimana unsur hara tersebut dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya

Kadar kapur tertinggi sampai terendah adalah tanah alfisol, entisol, vertisol, rendzina, dan ultisol. Bahan induk pada tanah alfisol ialah kapur dengan jeluk air sekitar 50 m. Adapun bahan induk pada tanah vertisol ialah kapur dan gamping. Kemudian pada tanah rendzina bahan induknya juga kapur, karena pengangkatan karst. Bahan induk tanah entisol dan ultisol berturut-turut ialah abu vulkan serta konglomerat dan breksi.

Kanbdungan Ca dan mg yang tinggi dalam tanah berhubungan dengan taraf perkembangan tanah tersebut, semakin kuat pelindian / semakin tua tanahnya, akan semakin kecil pula kandungan kedua zat tersebut. Kadar tinggi berkaitan dengan pH yang netral atau agak kalis. Sebagai unsur hara makro Ca dan Mg mempunyai fungsi yang penting pada tanaman. Kalsium (Ca) berperan sebagai penyusun dinding sel tumbuhan dan sering pula menjonjotkan / menetralkan bahan racun dalam jaringan tanaman. Magnesium (Mg) merupakan komponen dari klorofil dan berperan pula dalam pembentukan lemak dan minyak pada tumbuhan. Kekurangan kedua zat ini dalam tanah dapat menghambat perkembangan normal pad jaringan muda.

Kandungan kapur dari setiap jenis tanah berbeda-beda. Bahkan kandungan kapur dari lapisan atas tentu berbeda dengan lapisan di bawahnya. Hal ini disebabkan oleh adanya proses pelindian kapur pada lapisan atas oleh air yang akan diendapkan pada lapisan bawahnya. Selain itu keberadaan kapur tanah sangat dipengaruhi oleh batuan induk yang ada disuatu lokasi. Dalam percobaan ini dilakukan analisis kapur dengan menggunakan metode gravimetric yang dikenal dengan penetapan kadar kapur setara tanah dengan menggunakan alat calcimeter dan khemikalia HCl. CO2 yang menguap dalam penentuan kapur akan diukur menurut reaksi :

CaCO3 + 2 HCL CaCl2 + H2O + CO2

  1. WARNA TANAH

Warna tanah merupakan sifat morfologi yang bersifat nyata dan mudah di kenali.  Warna tanah dapat di gunakan sebagai petunjuk sifat-sifat tanah seperti kandungan bahan organik, kondisi drainase, aerase serta  menggunakan warna tanah dalam mengklasifikasikan tanah dan mencirikan perbedaan horizon-horizon dalam tanah (Hakim,dkk., 1996)

 

Tanah dengan drainase yang terhambat biasanya banyak mengandung bahan organik pada lapisan atas (top soil), sehingga berwarna gelap.  Tanah bagian bawah memiliki sedikit bahan organik sehingga berwarna kelabu muda.  Bila drainase agak baik, air dan suhu menguntungkan untuk peristiwa kimia, besi (Fe) dalam tanah teroksidasi sehingga menjadi senyawa yang berwarna merah dan kuning (Foth D, 1998)

Warna tanah dapat di tentukan dengan buku warna standar dari Munsell Soil Colour Chart (MSCC), maliputi penentuan warna dasar (matriks).  Warna bidang struktur  selaput tanah liat .  Warna karatan atau konkresi, warna jalit, dan warna humus (Arief, 1994)

  1. TEKSTUR DAN KESUBURAN TANAH

Tanah yang banyak ditumbuhi tumbuh-tumbuhan lebih subur daripada tanah gundul atau ada tumbuh-tumbuhannya, karena didalamnya terkandung lapisan bunga tanah yang tidak terkena erosi. Akan tetap,ibila hutan-hutan ditebang tanpa batas, apalagi di daerah yang miring, maka erosi oleh air maupun angin dapat dengan mudah terjadi di tanah bekas injakan-injakan binatang.

Ciri-ciri tanah subur antara lain: tekstur dan struktur tananya baik, yaitu butir-butir tanahnya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil; banyak mengandung garam yang berguna untuk makanan tumbuh-tumbuhan; dan banyak mengandung air untuk melarutkan garam-garaman.

Tekstur tanah menunjukkan proporsi pelatif dari ukuran partikel-partikel tanah. Rentangan ukuran partikel yan terbesar dapat dijumpai dalam kelompok tamah lempung (clay) yang diameter partikel-partikelnya mempunyai ukuran 0,0002 mm hingga hamper sebesar molekul. Struktur tanah adalah susunan butir-butir suatu tanah. Pada umumnya, komposisi tanah terdiri dari 90% bahan mineral, 1-5% bahan organik, 0,9% udara dan air.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi tekstur tanah antara lain komposisi mineral dan batuan /  bahan induk, sifat, dan cepatnya proses pembentkan tanah lokal, serta umur relatif tanah.

Hubungan antara tekstur dan kesuburan tanah tidak selalu ada meskipun tekstur tanah dapat menentukan atau bepengaruh dalam beberapa hal berikut.

· Pengerjaan tanah, misalnya tanah berpasir di daerah iklim basah biasanya cepat terurai. Selain itu, tanah tersebut berkapasitas rendah dalam menahan air, sehingga mudah mongering. Dengan menambah bahan-bahan organis, maka kesuburan tanah tersebut dapat ditingkatkan.

· Pengerjaan tanah berpasir di daerah beriklim kering (arid). Tanah di sini meskipun kadar bahan makanannya cukup tinggi, tetapi nilai kesuburannya rendah karena minimnya presipitasi, pencucian, dan rendahnya kapasitas menahan air.

· Pengerjaan tanah lempung. Dipandang dari sudut mudah tidaknya dikerjakan dan komposisi kimiawinya, tanah lempung mempnyai sifat yang bermacam-macam, diantaranya bersifat plastis dan sukar untuk diolah bila basah, serta keras jika kering. Namun, di daerah iklimtrpis basah tanah lempung memiliki permeabilitas walaupun rendah.

Permeabilitas tanah adalah cepat lambatnya air meresap ke dalam tanah melalui pori-pori tanah baik kearah horizontal maupun ke arah vertical. Cepat  /  lambatnya perembesan air ini sangat ditentukan oleh tekstur tanah. Semakin kasar tekstur tanah semakin cepat perembesan air.

Ketebalan atau solum tanah menunjukkan berapa tebal tanah diukur dari permukaan sampai ke batuan induk. Erosi menyangkut banyaknya partikel-partikel tanah yang terpindahkan. Drainase adalah pengeringan air yang berlebihan pada tanah yang mencakup proses pengatusan dan pengaliran air yan berada dalam tanah atau permukaan tanah yang menggenang .

Di daerah yang mempunyai solum tanah dalam, drainase yang baik, tekstur halus, kemiringan lereng 1-2% dapat diusahakan secara intensif tanpa bahaya erosi atau penurunan produktivitas. Daerah seperti ini mempunyai kemampuan besar dan bila diusahakan hambatan. Kemampuan daerah bersolum tanah dangkal, drainase buruk, tekstur tanah sangat halus atau sangat kasar, dan berlereng curam adalah terbatas dan bila lahan itu digunakan banyak hambatannya.

Dilihat dari segi kesuburannnya, tanah dibedakan atas tanah-tanah muda, dewasa, tua, dan sangat tua.

 

Tanah Muda, berciri unsur hara atau zat makanan yang terkandung di dalamnya belum banyak sehingga belum subur.

Tanah Dewasa, berciri unsur hara atau zat makanan yang terkandung di dalamnya sangat banyak sehingga tanah ini sangat subur. Tanah iniah yang sangat baik untuk pertanian.

Tanah Tua, berciri unsur  atau zat hara makanan yang terkandung di dalamnya sangat berkurang.

Tanah Sangat Tua, berciri unsur hara atau zat makanan yang terkandung di dalamnya sudah sangat sedikit, bahkan hamper habis sehingga ada yang menyebutkan jenis tanah ini sebagai tanah yang mati. Tanah ini sagat tidak subur.

Tanah memerlukan unsur-unsur untuk berubah dan berkembang. Bahan makanan yang diperlukan tanah adalah: K, P, N, C, H, O, Na, Ca, S, Mg, Fe, Zn, B, Cu, dan Mn.

Apabila salah satu unsur tersebut tidak ada, maka tanaman yang ada tidak sempurna atau tidak dapat tumbuh. Untuk mengisi kekurangan bahan makana tanaman di dalam tanah,dapat digunakan pupuk. Berdasarkan asal (sususnan) senyawanya ada dua macam pupuk.

Pupuk Alam (pupuk organik), yaitu pupuk yang dihasilkan dari sisa-sisa tanaman , hewan, dan manusia seperti pupuk hijau, pupuk kandang, dan pupuk kompos. Pupuk ini dapat menyepar air hujan, memperbaiki daya mengikat air, mengurangi erosi, dan untuk perkembangan akar atau biji.

Pupuk Buatan (pupuk anorganik), yaitu pupuk yang dibuat dalam pabrik, yang terbagi dua jenis, yaitu pupuk tunggal, misalnya pupuk fosfat (P), pupuk kalium (K), pupuk nitrogen (N) yang dikenal pupuk urea, ammonium sulfat, dan ammonium klorida, serta pupuk majemuk, yaitu pupuk NP, NK, PK, NPK, dan lain-lain. Keuntungan pupuk pabrik adalah praktis, ringan, mudah larut, dan cepat bereaksi. Agar berhasil baik dalam pemupukan perlu diperhatikan :potensi tanah, jenis pupuk, dosis pemupukan waktu, dan cara pemberian pupuk.

BAB III

KESIMPULAN

 

Tanah sebagai benda alam mempunyai sifat-sifat yang bervariasi. Sifat tanah yang berbeda-beda pada berbagai tempat mencerminkan pengaruh dari berbagai faktor pembentuknya di alam. Tanah dipandang sebagai alat produksi pertanian, karena tanah berfungsi sebagai media tumbuhnya tanaman. Produktivitas tanaman pertanian yang diusahakan banyak ditentukan oleh sifat-sifat tanah yang bersangkutan, baik sifat fisika tanah, kimiawi tanah, maupun biologi tanah yang bersangkutan. Sebagai media tumbuhnya tanaman tanah mampu berperan sebagai:

  • Tempat berdirinya tanaman
  • Tempat menyediakan unsur-unsur hara yang diperlukan oleh tanaman
  • Tempat menyediakan air yang dibutuhkan oleh tanaman
  • Tempat menyediakan udara bagi pernafasan akar tanaman

b. Bahan Penyusun Tanah

Tanah bukan merupakan timbunan bahan padat yang mati dan statis, melainkan merupakan suatu proses yang dinamis dan hidup yang mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Setiap tanah tersusun dari bahan mineral, bahan organik, air tanah. Bahan mineral berasal dari hasil pelapukan batuan, sedangkan bahan organik berasal dari hasil penguraian organisme yang mati. Di dalam tanah selalu terjadi proses destruktif dan konstruktif. Proses destruktif adalah penguraian bahan mineral dan bahan organik. Sedangkan proses konstruktif adalah proses penyusunan kembali hasil penguraian bahan mineral dan bahan organik menjadi senyawa baru.

Adanya keempat komponen tanah tersebut, serta adanya dinamika di dalamnya, menyebabkan tanah mampu berperan sebagai media tumbuhnya tanaman. Perbandingan komponen-komponen tanah pada setiap tempat tergantung pada jenis tanah, lapisan tanah, pengaruh cuaca dan iklim serta campur tangan manusia.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s